Aman Jarum: Negeri Pining

Aman Jarum: Negeri Pining

Aman Jarum, seorang tokoh adat sekaligus pencerita ulung di kecamatan Pining, kabupaten Gayo Lues. Beliau pernah 6 bulan di hutan, tahun 1984. Menurut cerita beliau, ada orang yang menjemput ke tengah rimba, kalau tidak, belum pulang saat itu.

Aku bertanya ke beliau, “kalau boleh tahu, apa yg dicari selama itu di hutan Aman?”, “saya cuma mau menikmati ciptaan tuhan, begitulah cara saya”, “sebab merugi orang-orang yang tidak bisa menikmati alam, ciptaan tuhan. Karena manusia pasti tidak bisa menciptakan batu-batu besar, pohon-pohon rindang itu. Makanan sudah ada di hutan, mau makan ikan tinggal mancing, mau makan ayam pasang jerat”, jawabnya dengan keyakinan penuh.

Menurut cerita beliau, nenek moyang masyarakat Pining dulunya datang ke negeri Pining disambut dengan harimau. Itulah alasan kenapa Aman Jarum menamakan gerakan mereka di kecamatan dengan Harimau Pining, “Biar yang muda-muda gak lupa dengan sejarah nenek moyang mereka sendiri”, tambahnya.

Kampung Pertik
Kabut Pagi di Kampung Pertik

Secara tradisi, atau kebiasaan adat, di Aceh lebih kuat dalam penyampaian/informasi lewat tutur kata: hikayat, syair, dan semacamnya. Dalam konteks komunitas di Pining, kebiasaan itu diteruskan lewat didong –Gayo Lues, yang berbeda dengan didong Aceh Tengah– dengan membawa isu/hal yg berkaitan dengan “merawat alam”. Satu pendekatan yang sangat jenius menurutku yang sudah dilakukan secara turun temurun.

Kegiatan didong sendiri biasanya dilakukan oleh masyarakat secara kolektif, misalnya hajatan, perkawinan dan semacamnya. Sampai ada tradisi mandi dan buang air besar di sungai (Aih Aunen), karena memang sejak dulu bak mandi/mck memang tidak ada. Berbeda dengan sekarang, orang sudah bisa tarik air ke rumah dengan mesin.

Share: Twitter Facebook

About Hafiz C.

Hafiz is a longlife learner, interisting to outdoor activity, love books and humans. He doing some random things on his laptop.

Banda Aceh, Indonesia https://kpshtm.github.io