Mekarlah Mekar!

Sekuntum bunga masih berbentuk kuncup. Walau seperempat abad sudah lewat. Sejak masih berupa benih, ia tumbuh di tanah kering bebatuan meski tidak pernah kekurangan air. Akarnya tunggal dengan serabut halus di sekeliling, batangnya berayun ikut kemana arah angin berhembus.
Saat musim hujan, ia tidak dibiarkan basah oleh keadaan sekitar, karena selalu dilindungi daun yang lebih tinggi dan besar darinya. Begitu juga kemarau, ia tidak mendapat sinar mentari oleh sebab daun besar itu. Tapi, daun selalu membagikan air terbaik yang bisa didapatkannya bagi bunga. Meski, sebenarnya, bukan air hal mendesak yang dibutuhkan oleh bunga.
Bunga itu tidak pernah mendapat kehangatan dari mentari oleh sebab-sebab di luar dirinya. Bukan untuk ber-fotosintesis, melainkan hanya untuk menguatkan akar serabutnya yang halus. Saat tingginya sudah sebatas lutut orang dewasa, seekor hama datang menggerogoti sebagian kecil serabut itu, membuat batangnya semakin kopong dari dalam, tapi tetap kokoh dilihat si daun besar dan oleh kupu-kupu di sekitarnya.
Petaka datang saat kuncup sudah mulai keluar. Masih dengan kondisi yang sama, kekurangan sinar mentari ditambah kondisi iklim buruk yang mengubah banyak hal pada unsur tanah, menjadikan akar bunga tidak pernah tumbuh barang dua inci pun. Malahan, kekopongan batangnya semakin menjadi-jadi. Lewat kode-kode alam raya ia berteriak, berusaha bentindak, meleburkan benar-salah pada mata angin.
Teriakan dan kode-kode itu diamati oleh jenis kupu-kupu tertentu. Kupu-kupu tidak bisa merubah banyak hal oleh sebab umurnya yang pendek dan sifat ragu-ragu yang ada, ia hanya terus khawatir, semoga kuncup itu akan mekar suatu saat dengan akarnya menembus batu terkuat sekalipun. Tanpa penyesalan dengan penyelesaian.